<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress/wordpress-mu-1.2.3-2.2.1" -->
<rss version="0.92">
<channel>
	<title>Rumah Konten</title>
	<link>http://bahtiarhs.blog.telkomspeedy.com</link>
	<description>Tempat Kompeten Belajar Membuat Konten yang Keren</description>
	<lastBuildDate>Fri, 03 Apr 2009 10:54:30 +0000</lastBuildDate>
	<docs>http://backend.userland.com/rss092</docs>
	<language>en</language>
	
	<item>
		<title>Menemukan Kunci, Menemukan Gaya</title>
		<description><![CDATA[<img src="http://www.randomhouse.com/catalog/authphoto_110/21332_morrison_toni.gif" alt="Toni Morison" />Pada mulanya saya membaca "Ketika Mas Gagah Pergi" karya Mbak Helvy Tiana Rosa. Saya lalu tertarik menulis cerita islami seperti cerpen itu. Muncullah karya cerpen-cerpen awal saya (Anda bisa membacanya di antologi "Suatu Petang di Kafe Kuningan", "Merah di Jenin", dan "Cahaya di Lorong Purnama").

Ketika kemudian mulai membaca novel, maka saya langsung <em>kesengsem</em> dengan karya-karya Eric Segal, seperti "Love Story", "Oliver' Story", "The Doctors" (favorit saya), "Man, Woman, and Child", "Nobel Prizes", "The Class". Bahasanya "indah", kadang lucu, membuat kita tersenyum. Seolah kita menertawai diri kita sendiri. Cerpen-cerpen saya, atau kemudian tulisan-tulisan saya yang non-fiksi sekalipun, sering terinspirasi gaya bercerita Eric. Termasuk novelet-novelet yang pernah saya tulis, seperti "Perseteruan Dua Bintang" (cerita anak, masuk 6 besar lomba penulisan fiksi di Depag 2002), "Rahasia Sasongko" (diikutkan ke lomba cerbung Femina, tetapi tentu saja tidak lolos :)), dan Serial dokter Pit yang sudah 23 bab tetapi tidak pernah saya publish karena <em>nggak pede</em>.]]></description>
		<link>http://bahtiarhs.blog.telkomspeedy.com/2009/04/03/menemukan-kunci-menemukan-gaya/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Konten Hebat: Indah!</title>
		<description><![CDATA[Mendefinisikan kata "indah" kiranya sama sulitnya dengan mendefinisikan kata "cinta". Kedua kata abstrak itu mungkin tak habis diterangkan dengan kata-kata yang ada. Karena itu, definisi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) untuk kata "indah" serasa tidak cukup mewakili makna kata itu. KBBI mendefinisikan kata itu sebagai "keadaan enak dipandang; cantik; elok."

Hmmm. Ada benarnya. Tetapi, indah lebih dari sekedar "enak dipandang", lebih dari sekedar "cantik"; dan lebih dari sekedar "elok", bukan? Tetapi kiranya kita semua sepakat jika konten yang hebat adalah konten yang "indah". Enak dipandang mata, enak didengar telinga, dan "enak" pula diterima hati.

Berkaitan dengan enak dilihat mata, maka ada sebuah ilmu atau teknik yang mengomunikasikan konten melalui bahasa visual dalam bentuk gambar. Itulah desain grafis. Ia termasuk dalam wilayah fine art. Seni estetika. Karena itu, desain grafis pasti juga berbicara tentang indah dan keindahan, karena ia bagian dari seni.

Jika konten yang hebat itu indah, maka ia dari kaca mata desain grafis memang tampak indah. Semua bagiannya. Teks isian dari sebuah konten pun termasuk dalam hitungan desain grafis, karena teks dalam desain grafis dianggap layaknya gambar seperti bagian lainnya. Bagaimanapun, teks merupakan abstraksi dari simbol-simbol (gambar), hanya ia bisa dibunyikan. Karena itu tidak bisa kita memisahkan desain teks isi konten dengan gambar yang menyertainya. Keduanya -- atau semuanya -- adalah satu kesatuan untuk membentuk sebuah harmoni menjadi konten yang indah.

Pengorganisasian unsur-unsur rupa yang disusun dalam karya desain grafis secara harmonis antara bagian dengan bagian dan bagian dengan keseluruhannya dalam desain grafis disebut komposisi. Blog buat saya termasuk karya desain grafis, betapapun sederhananya. Ada komposisi yang kita tata dalam blog kita, yang tak asal pasang kecuali dengan pertimbangan banyak hal; termasuk aspek "enak dipandang".

Apa saja prinsip-prinsip sebuah komposisi untuk menghasilkan karya desain grafis yang bagus? Setidaknya ada 6 (enam) prinsip, yaitu: kesatuan (unity), keseimbangan (balance), irama (ritme), kontras, fokus, dan proporsi. Bagaimana penjelasannya? Ikuti pada posting terpisah mengenai masing-masing prinsip tersebut. Sedangkan pembahasan posting ini cukup pada kesimpulan bahwa konten yang hebat haruslah "indah", setidaknya dalam bahasa desain grafis, betapapun sederhananya.

Bagaimana menurut Anda?

***

Keterangan.
Informasi lebih banyak bisa didapat di:
- http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/ (arti kata menurut KBBI)
- http://en.wikipedia.org/wiki/Fine_art (tentang fine art)
- Buku Pengantar Desain Komunikasi Visual, Adi Kusrianto, Penerbit ANDI, Yogyakarta, 2007. (tentang desain grafis)

Ingin membaca artikel lain, kunjungi <a href="http://bahtiarhs.blog.telkomspeedy.com">Rumah Konten</a>]]></description>
		<link>http://bahtiarhs.blog.telkomspeedy.com/2009/01/31/konten-hebat-indah/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Ucapan Terima Kasih</title>
		<description><![CDATA[SBC ternyata sudah ditutup siang ini jam 11.59 -- saya kira "jam yang sama" malam nanti.

Sudahlah. Salah sangka adalah bagian dari kedhaifan manusia. Apa mau dikata. Dan penutupan SBC ini hanyalah tanda berakhirnya sebuah event, sebuah acara, yang mungkin kita ikuti. Seremonial. Ada yang lebih penting dari itu. Keistiqamahan. Keajegan berbagi sedikit ilmu, sedikit kebaikan. Dan itu tidak ada batas waktu dan tempat. Tidak ada batas umur dan usia.

Karena itu, SBC boleh berakhir; tetapi Rumah Konten tetap akan aktif. Posting akan tetap berlanjut. Sebagaimana sifat ilmu, digali dan disebarkan sebanyak apapun tidak akan mengurangi, justru akan menambah. Semoga upaya ini termasuk pada aktivitas yang membuat saya "bergembira" kelak.

Maka pada kesempatan ini, saya haturkan beribu terima kasih atas partisipasi Anda semua, para pengunjung Rumah Konten yang sederhana ini, baik dari dalam maupun luar negeri, baik yang saya kenal secara pribadi maupun tidak, baik yang telah memasang banner Rumah Konten atau tidak, baik yang memberikan komentar dalam posting-posting maupun tidak, maupun mereka yang sekedar membaca posting di Rumah Konten ini. Hanya satu harapan saya, semoga Anda mendapatkan manfaat dari berkunjung ke blog ini. Mungkin sedikit ilmu. Mungkin rajutan tali silaturahmi. Mungkin sekedar sapaan ramah yang memancarkan energi kebaikan. Itu lebih membahagiakan saya ketimbang timbunan hadiah yang dapat hilang dalam sesaat.

Saya tentu akan menepati janji saya untuk mengirimkan buku kepada pemasang banner Rumah Konten dan pemberi komentar terbaik pilihan saya. Tunggu saja dengan sabar, beri saya waktu.

Itu saja. Semoga hubungan maya ini tetap berlanjut; sebagaimana pintu Rumah Konten akan tetap terbuka untuk Anda semua. 

Salaam saya buat Anda sekeluarga.

Wassalaamu'alaikum,

Bahtiar HS &#124; Owner Rumah Konten ]]></description>
		<link>http://bahtiarhs.blog.telkomspeedy.com/2009/01/31/ucapan-terima-kasih/</link>
			</item>
	<item>
		<title>KBBI, Rujukan Yang Terlupakan</title>
		<description><![CDATA[<a href="http://bahtiarhs.blog.telkomspeedy.com/files/2008/12/eydpraktis.jpg" title="EYD Praktis"><img src="http://bahtiarhs.blog.telkomspeedy.com/files/2008/12/eydpraktis.jpg" alt="EYD Praktis" /></a>Coba Anda tebak, mana yang benar:
<ul>
	<li>Faham atau paham?</li>
	<li>Fikir atau pikir?</li>
</ul>
<ul>
	<li>Kwalitas atau kualitas?</li>
	<li>Kwitansi atau kuitansi?</li>
</ul>
<ul>
	<li>Aktifitas atau aktivitas?</li>
	<li>Efektifitas, efektivitas atau evektivitas?</li>
</ul>
<ul>
	<li>Sholat atau salat?</li>
	<li>Adzan atau azan?</li>
	<li>Shubuh atau subuh?</li>
</ul>
Dan sederetan kata yang lain, yang banyak diantara kita tak mengindahkannya dalam menulis. Padahal sudah ada kitab <em>babon </em>rujukan untuk menggunakan kata yang tepat, yakni Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

KBBI yang terbit pertama pada 28 Oktober 1988 itu merupakan rujukan utama dan dipercaya oleh para pengguna Bahasa Indonesia, baik di dalam maupun luar negeri. Setiap perselisihan kata, maka KBBI-lah hakimnya. Hanya tidak setiap orang datang ke hakim terpercaya ini. Itulah ironisnya.

Saya rasa sebagai salah seorang penulis yang menggunakan Bahasa Indonesia sebagai pengantar, maka wajib hukumnya bagi kita untuk menggunakan KBBI ini sebagai rujukan. Memang seiring berkembangnya kosakata Bahasa Indonesia yang sangat pesat mungkin tidak diimbangi dengan pemutakhiran KBBI. Tetapi hal itu tidaklah menjadi alasan untuk tidak menjadikannya sebagai rujukan.

<!--more--><img src="http://bahtiarhs.blog.telkomspeedy.com/files/2009/01/tajukkbbi.jpg" alt="tajukkbbi.jpg" />Bahkan sekarang kita dimudahkan dengan hadirnya <em>KBBI Daring</em>. ("Daring" sendiri bukan sebuah kata Bahasa Indonesia, karena ia merupakan singkatan "dalam jaringan" -- terjemahan dari kata "online".) KBBI Daring memudahkan kita mencari sebuah kata dalam KBBI secara <em>online</em>. Tak pelak, KBBI Daring menggantikan buku KBBI yang setebal bantal itu sehingga lebih praktis, utamanya bagi kita yang sering <em>mobile </em>dan <em>online </em>ini.

Dengan bantuan KBBI Daring, maka pertanyaan di atas terjawab sudah.
<ul>
	<li>Paham, bukan <em>faham</em>.</li>
	<li>Pikir, bukan <em>fikir</em>.</li>
</ul>
<ul>
	<li>Kualitas, bukan <em>kwalitas</em>.</li>
	<li>Kuitansi, bukan <em>kwitansi</em>.</li>
</ul>
<ul>
	<li>Aktivitas, bukan <em>aktifitas</em>. Tetapi kata dasarnya tetap: <em>aktif</em>.</li>
	<li>Efektivitas, bukan <em>efektifitas </em>atau <em>evektivitas</em>. Kata dasarnya tetap: <em>efektif</em>.</li>
</ul>
<ul>
	<li>Salat, bukan <em>shalat </em>atau <em>sholat</em>.</li>
	<li>Azan, bukan <em>adzan</em>.</li>
	<li>Subuh, bukan <em>shubuh</em>.</li>
</ul>
Apakah Anda sudah menggunakan KBBI Daring? Kalau belum, segera kunjungi di:

<a href="http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/">http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/</a>

dan mulailah menggunakan Bahasa Indonesia dengan Baik dan Benar.

***

Keterangan.
Sumber gambar: http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/citra/tajuk.jpg

Ingin membaca artikel lain tentang konten yang hebat, kunjungi <a href="http://bahtiarhs.blog.telkomspeedy.com">Rumah Konten</a>.]]></description>
		<link>http://bahtiarhs.blog.telkomspeedy.com/2009/01/30/kbbi-rujukan-yang-terlupakan/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Konten Hebat: Komunikatif</title>
		<description><![CDATA["Komunikasi" menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah "pengiriman dan penerimaan pesan atau berita antara dua orang atau lebih sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami." Definisi ini mungkin <em>terlalu sempit</em>, karena hanya menyebut "orang" sebagai pengirim dan penerima pesan. Padahal komunikasi terjadi pada seluruh makhluk hidup.

Tetapi sudahlah, itu tidak penting. Yang lebih penting, dari definisi itu kita dapati komponen penting sebuah komunikasi terjadi. <em>Pertama</em>, adanya pengirim pesan (sender, emisor). <em>Kedua</em>, adanya penerima pesan (<em>receiver, destination</em>). <em>Ketiga</em>, adanya pesan yang dikirim (<em>message, content</em>). <em>Keempat</em>, pesan dapat dipahami. Jika salah satu dari keempat komponen itu tidak terpenuhi, maka <em>sebuah komunikasi tidak terjadi</em>. Berapa banyak komunikasi terjadi di sekitar kita tetapi dengan <em>content </em>atau pesan yang tak dapat dipahami -- sehingga pada dasarnya tidak pernah terjadi sebuah komunikasi.

Oleh karena itu, secara sederhana komunikasi bisa diilustrasikan seperti pada gambar ini.

<img src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/b/b0/Communication_emisor.jpg" alt="komunikasi" />

<!--more--><em>Emisor </em>mengirim <em>content </em>kepada <em>Destination </em>melalui gambar yang ia perlihatkan (visual) dan terangkan (audio) serta dilihat (visual) serta didengarkan (audio) oleh <em>Destination</em>. Komunikasi hanya terjadi jika <em>content </em>(berupa "Tree" / pohon) yang disampaikan <em>Emisor </em>dipahami <em>Destination </em>sebagai <em>content </em>yang sama (berupa "Tree" / pohon). Tetapi jika hanya "Tree" saja, komunikasi tersebut belumlah efektif, karena terlalu banyak pohon di dunia ini. Komunikasi itu menjadi sangat berhasil jika <em>Destination </em>mampu memahami pesan itu adalah "Pohon Bunga Asmara (Anthurium) berumur 2 tahun 11 bulan yang bisa ditukar dengan sepeda motor Tiger seri terbaru"; sama persis dengan yang dimaksud <em>Emisor</em>.

Konten yang hebat, karenanya adalah <em>konten yang komunikatif.</em> Yakni konten yang mudah dipahami oleh <em>Destination</em> (dalam konteks ini para pembaca) sehingga pesan yang terkandung di dalamnya diterima persis seperti apa yang dimaksud penulisnya (<em>Emisor</em>). Komunikasi yang "baik" seperti ini tentu sangat menginspirasi dan mencerahkan (pembaca), tetapi untuk mencapainya <em>tidaklah mudah</em>. Seperti kata Anne Morrow Lindbergh (22 Juni 1906-7 Pebruari 2001), seorang pionir penerbang dan penulis terkenal dari Amerika, bahwa "Good communication is as stimulating as black coffee, and just as hard to sleep after."

Bagaimana cara kita membangun konten yang komunikatif? Mungkin kita bisa memulainya dengan menyederhanakan yang rumit, menunjukkan dan bukan sekedar menceritakan, fokus, jangan bertele-tele, serta jangan menulis yang memang tak perlu ditulis. Sampaikan dengan hati, kata ustadz Fauzil Adhim dalam sebuah kesempatan, maka akan diterima dengan hati.

Walhasil, komunikatif? Pasti!

***

Keterangan.
Sumber gambar: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/b/b0/Communication_emisor.jpg
Informasi lebih banyak bisa didapat:
- http://en.wikipedia.org/wiki/Communication (tentang Communication)
- http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/ (KBBI Daring)
- http://en.wikipedia.org/wiki/Anne_Morrow_Lindbergh (tentang Anne Morrow Lindbergh)

Artikel lain tentang konten yang hebat, buka di <a href="http://bahtiarhs.blog.telkomspeedy.com">Rumah Konten</a>.]]></description>
		<link>http://bahtiarhs.blog.telkomspeedy.com/2009/01/30/konten-hebat-komunikatif/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Belajar Metode LUREC</title>
		<description><![CDATA[Banyak orang tidak menulis dengan alasan tidak punya bahan. Pahadal, bahan tulisan tersedia melimpah-ruah di arah manapun mata memandang. Berarti bukan bahan itu tidak ada, melainkan cara orang itu "belajar", yakni memamah bahan di sekitarnya sehingga mencetuskan ide sebuah tulisan, yang kurang tepat.

Saya teringat dengan sebuah metode sederhana yang diajarkan (alm.) Uncle M (Manshor H. Sukaemi). Beliau menyebutnya metode LUREC. Bahwa Learn = Understand + Remember + Explain Correctly. Bahwa seseorang bisa disebut "telah belajar" itu hanya jika ia paham terhadap apa yang dipelajari, ia juga ingat dengan yang dipelajari, serta yang lebih penting ia juga bisa menerangkan kembali apa yang dipelajari itu dengan bahasanya sendiri. 

Jika salah satu tidak dipenuhi -- tidak bisa menerangkan kembali, tidak ingat, apalagi tidak paham -- maka ia tidak dinamakan telah belajar.  

Explain Correctly itu bisa dilakukan salah satunya dengan cara menuliskan kembali apa yang telah kita pelajari. Hal ini sejalan dengan perkataan Imam Ali sebagaimana telah saya sampaikan pada posting terdahulu. Beliau mengatakan, "Ikatlah ilmu dengan menuliskannya." Kita akan dipahamkan tentang sesuatu (ilmu) dengan cara mampu menuliskannya kembali, dengan benar, dengan bahasa kita sendiri. 

Andai kita bisa belajar dengan cara demikian, barangkali kita tidak akan pernah kehilangan bahan dan ide untuk menulis. Ya nggak?

*** 

Baca artikel yang lain di <a href="http://bahtiarhs.blog.telkomspeedy.com">Rumah Konten</a>]]></description>
		<link>http://bahtiarhs.blog.telkomspeedy.com/2009/01/26/belajar-metode-lurec/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Jangan Tulis Yang Tak Perlu Ditulis</title>
		<description><![CDATA[<img src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/8/85/Potterindo.jpg" alt="harry potter I" />Saya sempat bertanya-tanya ketika selesai membaca Harry Potter jilid I: <em>Harry Potter and the Sorcerer's Stone. </em>Mengapa?

Cerita itu dibuka ketika Harry kecil dibopong oleh seorang yang disebut dengan <em>Sirius Black</em> yang mengantarkannya pada keluarga Dursley, paman Harry. Sirius Black lalu menghilang dan cerita mengalir hingga ketegangan demi ketegangan berikutnya. Ketika cerita berakhir, saya baru teringat Pak Sirius itu. Lantas, apa peran dia? Kok nggak ada sama sekali dalam cerita ini?

Ternyata pertanyaan saya terjawab pada Harry Potter jilid III: <em>Harry Potter and the Prisoner of Azkaban</em> (Jilid III!) Sirius Black ini ternyata adalah tahanan nomer wahid di Azkaban. Dan memang, tokoh utama -- tentu selain Harry -- pada jilid III ini adalah dirinya.

Ini hanya contoh saja terhadap apa yang ingin saya bicarakan kali ini. Bahwa dalam membuat konten bentuk apa saja, termasuk tulisan, pantang bagi diri kita untuk menuliskan fakta yang <em>tak ada kaitannya</em> dengan isi atau topik yang sedang kita bahas. Apalagi jika hanya untuk memenuhi jumlah halaman, misalnya. Kalimat "sumbang" demikian -- kalau boleh kita sebut -- tentu akan menimbulkan pertanyaan -- kalau tidak kebingungan -- seperti saya membaca Harry Potter jilid I (saja).

Ada satu prinsip menarik, yang biasanya dipakai untuk menulis cerita, dari seorang Ann Rule berkaitan hal ini. Penulis cerita bergenre <em>true crime</em> terkenal dari Amerika ini pernah menyampaikan sebuah prinsip, "<em>If I have a pistol in my first chapter, a pistol ends the book</em>." Dalam bahasa bebas saya, jika kita pernah menuliskan fakta tentang hadirnya sebuah pistol di awal sebuah cerita, maka senjata itu harus meletus sebelum cerita berakhir.

Karena itu, apapun fakta yang pernah kita ungkapkan dalam sebuah tulisan haruslah berguna. Jika tidak, maka tak usah ditulis.

Apakah kita sudah melaksanakan prinsip ini?

***

Keterangan.
sumber gambar: wikimedia.org
Informasi lebih banyak dapat dilihat di:
- http://www.annrules.com/bio.htm (tentang Ann Rule)
- http://en.wikipedia.org/wiki/Ann_Rule (tentang Ann Rule di wiki)
- http://en.wikipedia.org/wiki/True_crime_(genre) (tentang true crime)
- http://id.wikipedia.org/wiki/Harry_Potter (tentang Harry Potter)

(<a href="http://bahtiarhs.blog.telkomspeedy.com">Continue Reading di Rumah Konten...</a>)]]></description>
		<link>http://bahtiarhs.blog.telkomspeedy.com/2009/01/23/jangan-tulis-yang-tak-perlu-ditulis/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Petik Titik Atau Titik Petik?</title>
		<description><![CDATA[<a href="http://bahtiarhs.blog.telkomspeedy.com/files/2008/12/eydpraktis.jpg" title="EYD Praktis"><img src="http://bahtiarhs.blog.telkomspeedy.com/files/2008/12/eydpraktis.thumbnail.jpg" alt="EYD Praktis" /></a>Kita juga sering menjumpai penulisan yang begitu sepele. Soal ". (petik-titik) atau ." (titik-petik). Mana yang benar dari contoh kalimat di bawah ini:

<em>Ia berkata, "Aku ingin hidup seribu tahun lagi."</em>

<em>Jadilah "leader" dan jangan jadi "follower." </em>

Kelihatannya seperti tak ada yang salah, bukan? Tetapi marilah kita lihat sebagian aturan EYD tentang tanda petik.

<em>Pertama</em>, tanda petik penutup <em>mengikuti</em> <em>tanda baca</em> yang mengakhiri petikan langsung. Petikan langsung biasa dipakai pada kalimat dialog / percakapan. Karena itu,

<em>Ia berkata, "Aku ingin hidup seribu tahun lagi." </em> (benar, karena tanda petik penutup diletakkan setelah tanda baca akhir kalimat dialog.)  Sehingga menjadi salah jika kalimat tersebut ditulis:

<em>Ia berkata, "Aku ingin hidup seribu tahun lagi". </em> (petik, baru titik)

Namun, aturan ini tidak bisa kita pakai untuk kasus kedua. Kita bisa melihat aturan lain, yang kedua, bahwa <em>tanda baca penutup kalimat</em> atau <em>bagian kalimat</em> ditempatkan di <em>belakang tanda petik</em> yang mengapit kata atau ungkapan yang dipakai dengan arti khusus pada ujung kalimat atau bagian kalimat.

Apakah Anda bingung dengan klausul ini? Jika ya, maka Anda sama dengan saya. He he.

Tetapi intinya adalah jika ada titik atau tanda baca yang lain diletakkan setelah tanda petik penutup jika tanda petik itu ("...") digunakan untuk mengapit kata atau ungkapan. Jadi,

<em>Jadilah "leader" dan jangan jadi "follower."</em> (salah, karena tanda petik "..." pada <em>leader </em>dan <em>follower </em>adalah untuk <em>mengapit istilah khusus</em> itu; sehingga tanda titik sebagai penutup kalimat utuhnya seharusnya diletakkan <em>setelah </em>tanda petik penutup "follower".)

Karena itu, yang benar adalah,

<em>Jadilah "leader" dan jangan jadi "follower". </em> (petik, baru titik)

Mudah bukan? Selamat mencoba.

***

Kunjungi <a href="http://bahtiarhs.blog.telkomspeedy.com">Rumah Konten</a> untuk melihat konten hebat lainnya.]]></description>
		<link>http://bahtiarhs.blog.telkomspeedy.com/2009/01/22/petik-titik-atau-titik-petik/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Dua Kekhawatiran</title>
		<description><![CDATA[Ada dua hal yang sempat menghantuiku ketika memutuskan menikahinya. Pertama, soal mahar. Dan yang kedua, soal carok; duel antara dua orang lelaki menggunakan senjata celurit khas Madura itu. Bagaimanapun, dia orang Madura; perpaduan antara darah Sampang dan Bangkalan. Keduanya, kata banyak orang, adalah dua kota paling kasar dan garang di Madura.

Ada yang membisikiku kalau mahar wanita Madura minta ampun dah!

“Sampean mesti menyiapkan sapi dua ekor,” kata temanku yang minta tidak disebutkan namanya. “Yang gemuk-gemuk!” (<a href="http://bahtiarhs.blog.telkomspeedy.com/2009/01/20/dua-kekhawatiran/">Continue Reading...</a>)]]></description>
		<link>http://bahtiarhs.blog.telkomspeedy.com/2009/01/20/dua-kekhawatiran/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Lead Buat Mereka Yang Sibuk</title>
		<description><![CDATA[Banyak orang yang tak suka menebak-nebak isi sebuah konten atau tulisan. Apalagi jika dituntut harus membacanya hingga titik terakhir. Maunya to the point. Bahkan pengin tahu sejak awal, sehingga kalaupun tidak melanjutkan bacaan hingga akhir sudah bisa memperkirakan isi utuhnya.

Itulah guna lead ringkasan. Saya menyebutnya sebagai lead bagi orang-orang sibuk, tak punya waktu untuk membaca lebih banyak. Lead ringkasan dilakukan dengan cara menulis inti atau topik utama dari konten atau tulisan pada paragraf awal (lead). Paragraf-paragraf selanjutnya berfungsi sebagai penjelas atau jabaran dari topik utama itu. Karena itu, dari sisi kontennya, lead ringkasan lebih cocok dipakai untuk informasi yang bersifat hardnews (berita) yang strukturnya cenderung berbentuk piramida terbalik, meski tidak harus selalu demikian. (<a href="http://bahtiarhs.blog.telkomspeedy.com/2009/01/19/lead-buat-mereka-yang-sibuk/">Continue Reading...</a>)]]></description>
		<link>http://bahtiarhs.blog.telkomspeedy.com/2009/01/19/lead-buat-mereka-yang-sibuk/</link>
			</item>
</channel>
</rss>
