Ada dua hal yang sempat menghantuiku ketika memutuskan menikahinya. Pertama, soal mahar. Dan yang kedua, soal carok; duel antara dua orang lelaki menggunakan senjata celurit khas Madura itu. Bagaimanapun, dia orang Madura; perpaduan antara darah Sampang dan Bangkalan. Keduanya, kata banyak orang, adalah dua kota paling kasar dan garang di Madura.
Ada yang membisikiku kalau mahar wanita Madura minta ampun dah!
“Sampean mesti menyiapkan sapi dua ekor,” kata temanku yang minta tidak disebutkan namanya. “Yang gemuk-gemuk!”
Continue reading “Dua Kekhawatiran”
“Apakah Tuhan memberikan apa yang engkau harap dengan mengantarkannya dalam bungkusan yang indah?”
Neno Warisman pernah bertanya demikian pada sebuah acara di televisi, mengutip pernyataan seorang pakar yang aku lupa namanya.
“Tidak!” lanjut Neno. “Tuhan tidak mengantarkan apa yang engkau minta dalam sebuah bungkusan yang menarik lagi indah. Bahkan Ia mengantarkannya dalam bungkusan yang jelek, ruwet, carut-marut, dan kelihatannya sukar untuk dibuka. Pertanyaannya adalah: mengapa?”
Continue reading “Doa Dan Bungkusan Yang Ruwet”
Saya tuliskan dua bentuk tulisan hasil kunjungan saya ke Masjid Azizi yang terletak di kota bersejarah Tanjung Pura, Langkat, Sumatera Utara. Coba Anda rasakan perbedaan keduanya, seperti di bawah ini.
=== tulisan pertama
Berkunjung Ke Masjid Azizi
Hari ini kami mengunjungi Masjid Azizi. Masjid ini terletak di kota Tanjung Pura, ibukota Kesultanan Langkat di masa lampau, 100 km dari Medan.
Masjid ini didirikan oleh Sultan Abdul Aziz Djalil Rachmat Syah (1897-1927) pada 13 Juni 1902. Didirikan di atas tanah 18.000 meter persegi, menelan biaya 200.000 ringgit dan waktu 18 bulan.
Masjid Azizi kini terlihat tak terawat di usianya yang 105 tahun.
Continue reading “Dua Tulisan Tentang Masjid Azizi”
Apa yang bisa diharapkan dari sebuah tulisan yang ora sak baene (jawa: tidak biasa) dan sulit dimengerti? Lelaki pengarang ini punya jawabannya.
Membaca judul novel “Tanah Api”, serta kemudian mendapati kenyataan bahwa penulisnya menetap di daerah pegunungan kapur Kecamatan Ngimbang, pedalaman Lamongan Selatan, entah mengapa, seketika mengingatkan saya pada novel “Lingkar Tanah Lingkar Air” serta sosok penulisnya, Ahmad Thohari. Sebagaimana S. Jai – demikian lelaki penulis Tanah Api itu menyebut nama – Ahmad Thohari juga menetap di desa dan bukan di ibukota supersibuk macam Jakarta. Namun, begitu membaca novel ini, saya tidak mendapati gaya tulisan penulis Ronggeng Dukuh Paruk itu yang akrab dengan problem sosial di kalangan wong cilik dan juga seting tempat yang sangat dekat dengan alam pedesaan lengkap dengan hutan dan pegunungannya. Justru Tanah Api lebih banyak berbau politik ketimbang sosial dan berseting tempat di pusat kekuasaan (Jakarta).
Continue reading “”Tanah Api” dan Semangat Berbeda “