Jan 20
Dua Kekhawatiran
Ada dua hal yang sempat menghantuiku ketika memutuskan menikahinya. Pertama, soal mahar. Dan yang kedua, soal carok; duel antara dua orang lelaki menggunakan senjata celurit khas Madura itu. Bagaimanapun, dia orang Madura; perpaduan antara darah Sampang dan Bangkalan. Keduanya, kata banyak orang, adalah dua kota paling kasar dan garang di Madura.
Ada yang membisikiku kalau mahar wanita Madura minta ampun dah!
“Sampean mesti menyiapkan sapi dua ekor,” kata temanku yang minta tidak disebutkan namanya. “Yang gemuk-gemuk!”
“Ha?” aku terperanjat. “Benarkah?”
“Ya, benar. Nanti sapi itu harus diarak keliling kampung berikut bawaan yang lain. Dari pakaian paling luar sampai pakaian paling dalam!”
“Ha?” kedua kalinya aku terperanjat. “Sampai yang paling dalam?”
“Juga perhiasan dan perlengkapan dari ujung rambut sampai ujung kaki, seperti kerudung, sepatu, set manicure, set pedicure.”
“Ha?”
“Ya. Dibungkus dalam keranjang yang dihias. Semua barang harus kelihatan.”
“Ha? Kelihatan?”
“Ya. Supaya mudah diperiksa,” jawabnya enteng.
Aku melongo.
Tetapi syukurlah ketika kutanya mau minta mahar apa, ia minta sesuai dengan kemampuanku. Ia minta hapalan Surat Al-Fatihah dan seperangkat alat shalat, setidaknya mukena parasit. Katanya biar mudah dibawa jika ada tugas jaga di Rumah Sakit. Dan keduanya dengan mudah kutunaikan saat ijab-qabul.
Masalah kedualah yang menurutku lebih berat dan mengkhawatirkan. Carok. Mengapa? Jika pada masa sebelumnya pernah ada lelaki Madura yang ditolak dirinya sebelum menikah denganku, sehingga membuat para lelaki itu tersinggung atau merasa terusik kehormatannya, boleh jadi ia akan mengajakku berduel. Tentu saja hal itu sangat mengkhawatirkan.
Pertama, aku tidak pernah pegang celurit Madura kecuali berbentuk mainan seharga lima ribu perak di pelabuhan Kamal. Kedua, aku belum pernah melukai atau lebih dari itu membunuh seseorang, setidaknya untuk urusan cinta dan harga diri. Dan ketiga, bukan karena takut atau tidak berani, tetapi aku lebih menyukai perdamaian ketimbang berkelahi.
Tetapi, apa boleh buat. Jika ada yang menantang berduel dengan celurit alias carok, sebagai orang Ponorogo aku tak boleh setapakpun surut sebagaimana para warok. Biarlah mereka membawa celurit paling gede, paling mengkilat dan paling tajam yang belum pernah dipakai orang sekalipun. Aku akan layani. Kenapa mesti takut?
Tetapi Alhamdulillah, kekhawatiranku nampaknya tidak beralasan. Setidaknya tidak pernah ada yang menantangku carok hingga detik ini. Sehingga karenanya, aku tak perlu repot-repot meminjam revolver teman tentaraku untuk menghadapinya.
***
Keterangan.
Contoh lead ringkasan dari tulisan bebas saya. Semoga mewakili.





January 20th, 2009 at 6:50 pm
hahahahaha,bagus mas,yang terpenting adalah cara penyampaianya,kl cara penyampaianya baik hasilnya juga baik,bukankah mas sendiri yang posting kalau kata adalah senjata,hehehehehe
January 22nd, 2009 at 7:33 pm
sik sik.. ini cuman contoh fiktif, atau memang kisah beneran yg sampeyan jadikan contoh. Maksudku beneran memang kalo nyonya sampeyan orang Madurre ? :).. kalo gitu “persaudaraan” kita jadi tambah deket ni mas…
Kapan kalo pulang ke madura, pas “ngakan satte gule bareng” mas.. (lha sampeyan ngerti ndak ini?)
eh, soal lead example nya, bagus aja
January 23rd, 2009 at 1:10 pm
@tontowi: feature itu harus real. Jadi, fakta-fakta yang ada ya benar-benar fakta. tinggal cara kita mengolahnya, bukan? tentu dengan sedikit sentuhan humorous tidak jadi masalah.
Bini engko’ reng Senenan, Bengkalan. Lo’ jeuh dari pasar. Artina, be’eng mbi’ engko’ teretan tibi’
Mun kapan toron Medure, engko’ mesti ngakan kaldu kokot, Kak. (Halah!)
January 23rd, 2009 at 2:06 pm
wah, pemaparannya kayak beneran. saya seperti melihat budaya madura yang dipaparkan mas bahtiar persis seperti yang saya lihat dengan mata telanjang. maklum, saya kan orang madura. lead ringkasannya renyah. hihihihihi
January 24th, 2009 at 2:31 am
hahaha… salam mbak Ida, pak…:)
January 30th, 2009 at 7:38 am
haha.. tnyata sampeyan wis canggih bhs Bangkalane. Aku dewe kadang sik bingung ngrungo’no wong Bangkalan/Sampang ngomong. Krn dulur2 ku akehe pamekasan. Selamat kalo gitu, welcome to the jungle, eh the club hehehe