Dec 18 2008
Menulislah Meski Dengan Tetes Darah
Siapa yang tidak kenal dengan Wiji Thukul? Jika nama itu disebut, maka yang terbayang di benak kita adalah: penyair, tokoh buruh, puisi, kemerdekaan berekspresi, dan … orang hilang yang tak tentu rimbanya hingga kini.
Ya, ia memang raib entah kemana setelah telepon terakhirnya kepada Wahyu Susilo, adiknya di suatu hari tanggal 19 Pebruari 1998. Ia hanya menanyakan tentang kabar keluarga dan bilang akan segera pulang. Dan ia akhirnya memang ‘pulang’, tetapi pulang entah kemana.
Satu hal yang patut diteladani dari dirinya adalah kegigihannya menulis — dalam hal ini menulis puisi. Karena melalui media inilah pikirannya, kegelisahan dan kegundahannya, harapan dan perjuangannya bisa tersalurkan. Puisi dipilihnya mungkin karena meski singkat, tetapi puisi tajam melebihi tajamnya pedang. Bahkan katanya jika politik itu bengkok, maka puisilah yang akan meluruskannya.




