Dec 04
Konten Hebat: Menggerakkan!
Agama mengajarkan kepada kita agar menjadi manusia yang berguna untuk orang lain. Bahkan, sebaik-baik manusia tidak lain adalah mereka yang paling bermanfaat bagi orang lain.
Berangkat dari ajaran yang sangat baik ini, maka aktivitas menulis pun harus on mission. Harus ada misi, karena misi itu merupakan pengejawantahan dari niat. Padahal niat adalah pangkal segala aktivitas. Aktivitas tanpa niat tidak akan bernilai apa-apa. Karena itu, sejak sebelum sebuah blog dibuat, maka niat harus sudah dipasang lebih dahulu: untuk apa saya menulis konten di blog itu?
Oleh karena itu, buat saya, konten yang hebat — berangkat dari falsafah di atas — itu harus memberi manfaat pada orang lain, dalam hal ini pembacanya. Entah panjang atau pendek, berbentuk teks, gambar, video, lagu atau lainnya. Dalam konteks sebuah konten, “manfaat” itu adalah berupa energi untuk — tidak sekedar mencerahkan, melainkan hingga — menggerakkan! Mencerahkan saja resultannya masih pasif, tetapi menggerakkan lebih bermakna aktif.
Blog yang hebat, karenanya, adalah yang kontennya “menggerakkan” orang lain untuk berpikir, berpengetahuan, berperilaku, dan berbuat lebih baik. “Ketika Mas Gagah Pergi“, cerpen Helvy Tiana Rosa, mampu menstimulasi banyak wanita untuk berjilbab. “Laskar Pelangi” karya Andrea Hirata mampu menyadarkan seorang yang terjerumus narkoba untuk bangkit dan merehabilitasi dirinya. Keduanya memang bukan konten blog, tetapi saya hanya ingin memberi contoh bahwa sebuah tulisan atau konten untuk konteks blog sangat berpeluang untuk bisa menggerakkan orang lain.
Bahkan untuk urusan gerak-menggerakkan ini, Mas Gembol, Menteri Desain Republik Indonesia, sampai harus mencanangkan Kampanye Bergerak di blognya untuk menyentil kita semua yang diam di tempat.
Oleh karena itu, sangat disayangkan jika blog hanya diisi dengan kisah sedih tentang ditinggal pacar, patah hati, cemburu buta, kekasih direbut orang, selingkuh. Atau berita gembira macam dapat gacoan baru, saingan celaka, pacar yang telah kembali. Cerita semacam ini tak layak dibagi, apalagi disebarkan.
Ada sebuah hadits yang menyatakan bahwa barangsiapa mengajak kepada suatu petunjuk, maka baginya pahala seperti pahala-pahala mereka yang mengikutinya tanpa mengurangi sedikitpun dari pahala mereka. Konten yang ditulis dengan niat yang baik untuk berbagi akan mendapatkan pahala kebaikan pula. Ketika ada pembaca yang tergerakkan dan kemudian berubah lebih baik setelah membaca konten itu, si penulis konten akan kecipratan satu pahala kebaikan tanpa mengurangi pahala yang membacanya. Bayangkan jika banyak pembaca tergerakkan, kemudian memberi tahu teman-temannya hingga membaca konten itu serta tergerakkan pula, maka berapa banyak pahala yang bakal diterima si penulis konten? Ini seperti bisnis MLM dengan point yang diterima berupa bonus pahala kebaikan!
Itulah konten yang hebat, menurut saya. Bagaimana dengan Anda?
***
Keterangan.
Sumber gambar: poster Kampanye Bergerak KDRI di blog KDRI (http://menteridesainindonesia.blogspot.com/).





December 5th, 2008 at 9:50 am
[…] seperti Anda dan saya pasti memilih yang ketiga. Airnya bersih dan sehat (artinya kontennya bermanfaat) dan embernya bersih lagi suci (penyajiannya memperhatikan aturan EYD). Orang yang menerima air pun […]
December 9th, 2008 at 7:13 am
[…] dari itu, jika kita menyebar kebaikan, kita akan mendapatkan pahala kebaikan itu dan pahala kebaikan orang-orang yang mengikutinya; maka […]
January 2nd, 2009 at 7:49 am
Apakah ada informasi mengenai hal ini dalam bahasa lain
January 2nd, 2009 at 6:53 pm
Saya setuju. Mengingatkan dan menegaskan kembali akan salah satu tujuan blogging yg penting. Tapi agak kurang sreg sedikit dengan : mencerahkan itu masih pasif.. dst. Bagi saya mencerahkan itu sendiri sudah merupakan ‘power’ , apalagi bagi orang yang berakal (baca : berpendidikan — dan para blogger insyaAllah begitu).
Sedang konteks ‘menggerakkan’ itu sendiri menurut saya masih rancu, apa iya sang tulisan yg bener2 menggerakkan? Bukankah tulisan hanyalah tulisan? Kecuali sang penulis juga sampai berusaha ‘face-to-face’ membimbing ‘targetnya’.
Tapi, anyway, ini bukan perbedaan yg terlalu mendasar.. Yg penting ide pokoknya saya setuju
January 8th, 2009 at 11:27 am
@tontowi: KBBI mendefinisikan ‘mencerahkan’ sebagai menjadikan (menyebabkan) cerah (tidak suram, jernih, dsb). Saya setuju jika mencerahkan mengandung ‘power’. Tetapi power itu hanyalah ‘potensial’ saja, yang baru bermanfaat lebih jika potensial itu dipakai. Dalam bahasa saya: digerakkan.
Mas Tontowi mkn lupa. Bung Karno, Bung Hatta, dan tokoh2 pergerakan Indonesia dulu melalui orasi dan tulisan — bahkan mkn tak pernah bertatap muka dengan masyarakat — mampu ‘menggerakkan’ bangsa ini merebut kemerdekaan. Mereka bergerak lho mas, meski hanya membaca tulisan beliau.
Demikian juga, Tolstoy di Rusia, Jose Rizal di Philipina. Juga Kang Abik dengan AAC-nya, Mbak Helvy dengan “Mas Gagah”-nya. Andrea dengan Laskar Pelangi-nya. Mereka tak saja ‘mencerahkan’ banyak orang, tetapi juga ‘menggerakkan’. Mereka juga tak selalu bertemu dengan ‘target’-nya.
Anyway, ide pokoknya ente setuju, bukan? Itu yang penting
Thanks sharingnya.
June 30th, 2009 at 2:06 pm
meski baru sampai tahap mencerahkan, Anda/penulis sudah dapat pahala berlimpah (jika kontennya positif, tentunya…), bagaimana bila tulisan itu bisa menggerakkan???
