Apa yang pertama kali Anda baca ketika membeli majalah TEMPO?
Anda mungkin akan membaca mulai halaman pertama, tetapi saya sudah berbilang tahun membaca TEMPO pasti bermula dari halaman terakhir. Karena satu-satunya alasan utama saya membeli TEMPO adalah Catatan Pinggir tulisan Goenawan Mohamad di halaman buncit majalah itu.
Caping barangkali adalah tulisan yang mula pertama memberi saya rangsangan dan semangat menulis. Saya suka dengan gaya bahasa dan cara GM bertutur. Membaca caping, selain tak memberi saya rasa bosan, juga mengajari saya menjadi lebih arif. Saya bahkan suka ‘meniru’ gaya GM, meski tentu jauh dari aslinya, ketika mulai menulis di mading kampus di awal 90an. Dan hampir semua teman saya memiliki kesan yang sama setelah membaca tulisan di mading itu: “Aku kok tidak paham ya dengan tulisanmu?”
Saya tidak kecewa dengan komentar teman-teman itu. Karena Caping pun bagi sebagian orang juga “sulit dimengerti.” Diperlukan pembacaan yang cerdas dan kontemplatif untuk memahami pokok pikiran GM di Capingnya — karenanya juga tulisan saya ** halah! **
Continue reading “GM, Caping, dan Mengajak Tanpa Menggurui “
Agama mengajarkan kepada kita agar menjadi manusia yang berguna untuk orang lain. Bahkan, sebaik-baik manusia tidak lain adalah mereka yang paling bermanfaat bagi orang lain.
Berangkat dari ajaran yang sangat baik ini, maka aktivitas menulis pun harus on mission. Harus ada misi, karena misi itu merupakan pengejawantahan dari niat. Padahal niat adalah pangkal segala aktivitas. Aktivitas tanpa niat tidak akan bernilai apa-apa. Karena itu, sejak sebelum sebuah blog dibuat, maka niat harus sudah dipasang lebih dahulu: untuk apa saya menulis konten di blog itu?
Oleh karena itu, buat saya, konten yang hebat — berangkat dari falsafah di atas — itu harus memberi manfaat pada orang lain, dalam hal ini pembacanya. Entah panjang atau pendek, berbentuk teks, gambar, video, lagu atau lainnya. Dalam konteks sebuah konten, “manfaat” itu adalah berupa energi untuk — tidak sekedar mencerahkan, melainkan hingga — menggerakkan! Mencerahkan saja resultannya masih pasif, tetapi menggerakkan lebih bermakna aktif.
Blog yang hebat, karenanya, adalah yang kontennya “menggerakkan” orang lain untuk berpikir, berpengetahuan, berperilaku, dan berbuat lebih baik. “Ketika Mas Gagah Pergi“, cerpen Helvy Tiana Rosa, mampu menstimulasi banyak wanita untuk berjilbab. “Laskar Pelangi” karya Andrea Hirata mampu menyadarkan seorang yang terjerumus narkoba untuk bangkit dan merehabilitasi dirinya. Keduanya memang bukan konten blog, tetapi saya hanya ingin memberi contoh bahwa sebuah tulisan atau konten untuk konteks blog sangat berpeluang untuk bisa menggerakkan orang lain.
Continue reading “Konten Hebat: Menggerakkan!”